Belajar Jurnalis di Masjid Kupang Nusa Tenggara Timur

Belajar Jurnalis di Masjid Kupang Nusa Tenggara Timur

Belajar Jurnalis di Masjid Kupang Nusa Tenggara Timur

Awal kemunculannya yakni pada awal tahun 2010 di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur. Setelah dua tahun beredar di NTT, Abidin memindahkan kantor pusat belajar ke Kabupaten Kupang pada tahun 2012. Dia merintis media online yang berkantor pusat di Kediri. Berbekal ilmu kejurnalistikan di media terbesar di Indonesia, Koran Kompas yang berada di Jogja.Setelah lama beredar didunia jurnalistik, mulai dari Koran local hingga Nasional, beliau berinisiatif mendirikan sebuah media sendiri.Kemudian, media online dipilih setelah melihat peluang media cyberini dengan terus diminati oleh pembaca. Pada tahun tersebut, media cyber belum ada di Kediri dan keberadaan media cyber ini belum banyak diminati masyarakat Kediri karena minimnya akses internet. Belajar di masjid berkembang terutama didunia jurnalistikan membawa idealisme. Dimana, menjadi media online tidak hanya berita semata tapi analisis mendalam tentang keberadaan sosial dan juga perpolitikan masyarakat. Berbasis data yang detail dan akurat, terus bertahan dengan persaingan.

Berbagai sub pilihan ada mulai dari Daerah, Politik, Hukum dan Kriminal, Sosial Budaya, Suara Kita, Ekonomi, Advertorial, Nasional. Masjid tempatnya lahir membawa semangat kebersamaan dan perdamaian. Mengusung semangat lokalisir informasi dan jurnalisme public yang saat ini menjadi kebutuhan mutlak. Jurnalis hadir ditengah-tengah kita sendiri. Sesuai dengan teori perkembangan media setelah keberadaan media cyber yang mulai dilirik oleh pembaca. Media massa yang berbasis internet atau media online atau media cyber yang dinaungi oleh didirikan pada 12 Februari 2010. Masjid lahir untuk memberi tempat untuk keberadaan kita semua. Sekaligus mengambil tempat sebagai jejaring sosial yang lebih edukatif, mengedepankan pola pikir sehat, dan mengesampingkan emosi sesaat alih-alih berkesinambungan belajar jurnalis di dalam masjid kota Kupang.

Mengajakanda, rekananda, saudaraanda, kerabatanda, orang-orang di sekitaranda, atau bahkan orang-orang yang pernah anda lihat atau dengar selintas, untuk menjadi satu kesatuan di dalam kita. Bahu membahu menyuarakan aspirasi untuk perkembangan dan kemajuan kita dan lingkungan sekitar kita.

Masjid hadir mewadahi siapa saja yang ingin mengekspresikan diri sebagai jurnalis. Tayang setiap saat seperti semangat media online, yakni kecepatan dalam menyampaikan informasi di masjid. Era media kontemporer ini telah memberi tempat pada siapa saja untuk menjadi jurnalis. Mengamati, mengalisa, menyimpulkan, dan melaporkan apa saja yang telah, sedang, dan hendak terjadi disekitar kita.

Jurnalistik bukan lagi hanya menjadi hak wartawan yang bekerja secara resmi di media massa komersil. Siapa saja, baik itu aparatur Negara, masyrakat sipil, pelaku bisnis, kalangan professional, siswa, mahasiswa, pekerha kasar, sampai pengangguran berhak berpendapat, dan itu dijamin dalam UUD 1945. Dan adakitanews hadir untuk kita semua, lepas dari strata sosial maupun pendidikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *